Ini contoh teks berjalan. Isi dengan tulisan yang menampilkan suatu ciri atau kegiatan penting di desa anda.

Artikel

Unsur-unsur Kebudayaan Desa Sumbersari

10 Agustus 2022 00:16:42  Administrator  214 Kali Dibaca  Berita Desa

Kebudayaan menurut Koentjaraningrat adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Namun, seringkali kebudayaan hanya bermakna atau berkatan dengan bidang seni. Sebaliknya, segala hal yang berkaitan dengan perilaku manusia dalam kehidupannya bisa dikategorikan sebagai kebudayaan.

Tulisan ini akan mendeskripsikan hasil berupa gambaran lengkap mengenai kehidupan suatu masyarakat tertentu di dalam sistem bahasa, agama, kekerabatan/organisasi sosial, sistem pengetahuan lokal, ekonomi, dan kesenian, khususnya di Desa Sumbersari.

1. Sistem Religi

Mayoritas agama masyarakat Desa Sumbersari adalah Islam. Hal ini ditandai adanya eksistensi masyarakat dalam mempertahankan tradisi keagamaan, seperti tradisi ziarah, yasinan dan tahlilan. Selain itu, masih banyak tradisi keislaman yang sampai saat ini berkembang di masyarakat Desa Sumbersari, tradisi tersebut memiliki kepercayaan atau pemahaman keagamaan yang menekankan tradisi kejawen. Hal ini ditandai dengan berlangsungnya tradisi selametan dengan mengadakan kenduri tumpengan dan kirim doa untuk para leluhur. Selametan tersebut sendiri merupakan cara agama yang paling umum untuk melambangkan persatuan mistik dan sosial orang yang datang dalam acara kirim doa terhadap ruh-ruh leluhur. Selain mempercayai keberadaan ruh leluhur juga mempercayai adanya penjaga teritorial (wilayah) seperti penjaga sumber air, penjaga bumi, penjaga pertanian dan sebagainya.

Koentjaraningrat menyatakan bahwa asal mula permasalahan fungsi religi dalam masyarakat adalah adanya pertanyaan mengapa manusia percaya kepada adanya suatu kekuatan gaib atau supranatural yang dianggap lebih tinggi daripada manusia dan mengapa manusia itu melakukan berbagai cara untuk berkomunikasi dan mencari hubungan-hubungan dengan kekuatan-kekuatan supranatural tersebut. Sedangkan kepercayaan mengirimkan doa, terwujud dalam upacara kematian dengan mengadakan selametan 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun, dan 1000 hari. Hal ini masih dilakukan masyarakat karena mereka meyakini doa yang mereka panjatkan kepada Tuhan untuk orang yang sudah meninggal akan sampai.

2. Sistem Bahasa

Menurut Koentjaraningrat, unsur bahasa atau sistem perlambangan manusia secara lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi adalah deskripsi tentang ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan beserta variasi-variasi dari bahasa itu. Masalah dialek atau logat bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi antara berbagai masyarakat yang tinggal di satu rumpun atau satu daerah seperti Jawa. Dalam kehidupan masyarakat Desa Sumbersari, bahasa Jawa yang digunakan rata-rata akulturasi dialek Solo dan Yogyakarta. Namun secara umum, bahasa Jawa yang digunakan berbeda-beda tingkatannya ada bahasa ngoko (terdiri ngoko lugu dan ngoko alus) dan bahasa kromo (terdiri dari kromo lugu dan kromo inggil).

3. Sistem Kekerabatan

Secara umum, masyarakat Desa Sumbersari menerapkan prinsip eksogami didalam pernikahannya (memilih calon pasangan yang berasal dari luar kerabat). Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya pengetahuan lokal masyarakat mengenai larangan menikah dengan seseorang yang masih satu rumpun keturunan. Menurut Mbah Raden Timbul, Tokoh Sesepuh Desa Sumbersari (Lurah Kedua Desa Sumbersari), biasanya perjodohan atau kehidupan rumah tangga seperti tidak akan berlangsung dengan lama. Begitu pun pada saat melaksanakan perkawinan, jika kedua kakak beradik dinikahkan dalam satu waktu yang bersamaan, maka akan ada salah satu diantaranya yang tidak langgeng dalam kekeluargaannya. Meskipun demikian, masih ada beberapa yang menganut prinsip endogami –mengambil jodoh ideal dari yang serumpun- baik keturunan bangsawan maupun satu trah garis nenek moyang. Hal ini terjadi karena adanya alasan sebagai upaya menjaga menjaga kemurnian darah kebangsawanan, harta dan kedudukan keluarga yang bersangkutan.

Sedangkan disisi lain, walaupun saat ini masyarakat Jawa sudah mulai meninggalkan kebiasaan mencari jodoh ideal yang berasal dari satu kerabat dan mulai mencari jodoh di luar kerabatnya sendiri. Namun, ditinjau dari hubungan kekerabatannya, masyarakat Desa Sumbersari masih menerapkan konsep keluarga luas yang dilihat garis keturunan atau tali persaudaraan antara satu dengan lainnya.

4. Sistem Mata Pencaharian

Perubahan sistem penghidupan masyarakat pedesaan dilatarbelakangi adanya peningkatan sumber pendapatan masyarakat pedesaan, jika dahulu sumber pendapatan masyarakat sangat terbatas pada sektor pertanian, berubah dan bertambah banyak di luar sektor pertanian dan dapat dilakukan di luar desa (pabrik dan jasa). Dengan bertambahnya sumber nafkah tersebut, alternatif strategi nafkah yang dapat menjadi pilihan rumah tangga masyarakat pedesaan juga semakin beragam. Dengan berubahnya atau bertambahnya strategi nafkah rumah tangga memperlihatkan bahwa sistem mata pencaharian masyarakat pedesaan mengalami perubahan.

Meskipun demikian, masyarakat Desa Sumbersari kebanyakan bekerja di bidang pertanian, baik sebagai petani pemilik maupun petani penggarap dengan sistem patron-kliennya yang masih tetap terikat hubungannya yang saling membutuhkan.

5. Sistem Peralatan Hidup

Secara khusus, nenek moyang masyarakat Jawa memiliki pengetahuan cara bercocok tanam di lahan pertanian dan memiliki alat pertanian tradisional yang diwariskan secara turun temurun, yang masih sederhana sifatnya, digunakan oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun dan merupakan bagian dari sistem teknologi yang mereka miliki menurut konsepsi kebudayaannya. Misalnya, cara membajak menggunakan hewan kerbau serta alat-alat pertanian seperti luku, garu, gathul, dan garuk/garpu.

Namun, seiring berjalannya waktu, tentu ada perkembangan dan peralihan alat pertanian untuk membantu meningkatkan produksi pertanian. Hal ini ditandai adanya penggunaan alat-alat modern seperti bajak mesin dan jenis tanaman yang mayoritas berumur singkat seperti padi jenis IR. Meskipun demikian, tidak semua masyarakat Desa Sumbersari menggunakan alat-alat modern tersebut, mengingat kontur tanah dan persawahan di wilayah Sumbersari ini menerapkan sistem terasmiring.

Arus modernisasi tersebut ternyata berdampak juga didalam kehidupan masyarakat. Masyarakat Desa Sumbersari, khususnya, mulai meninggalkan alat-alat pertanian tradisional yang sebenarnya dipandang penting dibalik nama alat-alat itu terdapat khazanah budaya (makna filosofi) yang adiluhung. Berikut beberapa nama alat-alat tradisional masyarakat Jawa yang diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang diantaranya:

  • Luku, perkakas pertanian yang terbuat dari kayu jati atau kayu nangka. Fungsi luku untuk membajak sawah agar tanah sawah gembur dan rumput tertutup oleh tanah yang dibalik oleh aktivitas membajak dengan luku tersebut. Ngluku merupakan kegiatan membajak sawah dengan mempergunakan luku. Ngluku bermakna kultural ngluruske laku, artinya sebelum menyiapkan generasi menjadi pemimpin yang mumpuni, harus dipersiapkan etika dan tindakan yang lurus. Laku merupakan sifat yang penuh keprihatinan. Ngluku merupakan simbol pelurusan calon pemimpin yang memiliki sifat rendah diri dan mawas dengan keprihatinan, yakni paham akan keadaan di sekitarnya. Fungsi ngluku ialah membolakbalik dan melumat tanah. Hal ini menjadi simbol calon pemimpin yang diharapkan dapat mengubah keadaan menjadi lebih baik agar tercipta suasana bermasyarakat yang harmonis dan seimbang (Wahyuni, 2017: 24).
  • Garu terbuat dari besi dan berbentuk seperti sisir besar. Sama seperti luku, garu juga dipasangkan pada alat khusus dan ditambatkan pada kerbau atau traktor. Tahapan nggaru dilakukan untuk menghaluskan bongkahan tanah bajakan. Tahapan ini bertujuan untuk meratakan tanah sawah sebelum ditanami benih. Kata nggaru merupakan akronim dari nggadhahi rumangsa yang bermakna memiliki sikap peka, bermakna kultural adanya harapan pemimpin yang memiliki sifat peka terhadap keadaan rakyatnya. Nggaru yang dilakukan berulang-ulang merupakan simbol bahwa seorang pemimpin tidak boleh berhenti membuka mata hati dan pikirannya untuk selalu peka secara terus-menerus.
  • Arit, sejenis pisau tajam yang terbuat dari besi baja berkualitas, berbentuk melengkung seperti bulan sabit. Arit digunakan untuk memotong rumput dan digunakan juga untuk memanen padi. Berdasarkan konsep tradisional atau jarwa dhosok, masyarakat di Jawa Tengah memaknai arit dengan ‘ayo ngirit’ atau ayo berhemat. Arit dimaknai demikian karena kebanyakan masyarakat memotong rumput (ngarit) menggunakan tenaganya sendiri, sehingga tidak perlu mengeluarkan uang untuk membayar, dan bisa menghemat. Hal ini merupakan simbol bahwa manusia sebaiknya selalu berhemat dalam hidupnya, menggunakan hartanya dengan cermat dan hati-hati.
  • Gathul adalah alat pertanian yang digunakan untuk melubangi tanah pada saat petani menanam kacang, padi, jagung dan lain-lain. Selain itu, gathul juga berfungsi untuk mencabuti rumput-rumput liar yang bisa mengganggu tumbuhnya tanaman petani atau kita sering mengenalnya dengan istilah duduh.
  • Pacul, terbuat dari lempengan besi baja yang sangat kuat. Pacul digunakan untuk berbagai pekerjaan, antara lain: (1) membelah, membalik, dan menggemburkan tanah; (2) mengerjakan tanah pada petak-petak sempit dan sudut-sudut yang tidak dapat dikerjakan menggunakan bajak; (3) mengolah tanah berbatu dan menyisir tanggul; (4) membuat parit; (5) menggali lubang pada saat menanam kacang tanah, jagung, dan tanaman lainnya. Berdasarkan konsep tradisional atau jarwa dhosok, masyarakat memaknai pacul dengan ‘sipat papat ora kena ucul’ atau empat komponen yang tidak boleh terlepas. Pacul dimaknai demikian karena pacul memiliki empat komponen utama yang saling berkaitan, tidak boleh lepas, karena apabila salah satu komponennya lepas, maka pacul tersebut tidak dapat digunakan dengan maksimal. Empat komponen tersebut adalah godhongan, doran, kolong, dan tandhing. Hal ini merupakan simbol bahwa manusia harus bekerja dan berkarya secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan hidup, baik jasmani maupun rohani, keduanya harus seimbang.
  • Menurut Bapak Sutoyo, selaku pemilik penggilingan UD. Barokah di Batang Lor, Desa Sumbersari, ada beberapa alasan masyarakat mulai meninggalkan alat-alat tradisional karena melihat kelebihan dan kekurangan diantara dua model alat pertanian tersebut. Meskipun masih ada yang menggunakan alat pertanian tradisional, namun mengenai makna filosofi alat tradisional tersebut, memang saat ini kebanyakan masyarakat sudah tidak lagi mengenal dan mengetahuinya.

6. Sistem Pengetahuan Lokal

Pengetahuan lokal menurut Geertz (2003) adalah konsep-konsep yang bersumber dari fakta-fakta dan hukum-hukum sosial yang diwariskan secara kultural membentuk perilaku. Pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman adaptasi secara aktif diwariskan secara turun temurun menjadi kearifan lingkungan yang terbukti secara efisien dalam pelestarian fungsi lingkungan dan penciptaan keserasian sosial. Kearifan tentang lingkungan tersebut diwujudkan dalam bentuk ide (norma, nilai, mitologi, dan cerita rakyat), aktivitas sosial (interaksi sosial, upacara adat keagamaan, pola permukiman) dan teknologi pengelolaan lingkungan yang berupa peralatan.

Sebagai masyarakat desa yang mayoritas bermata pencaharian petani dan buruh tani, sistem pengetahuan masyarakat Desa Sumbersari umumnya diperoleh dari nenek moyang mereka terdahulu, baik dalam bentuk lisan maupun tulis. Pengetahuan yang diperoleh dalam bentuk lisan biasanya disampaikan dari mulut ke mulut dan pada waktu dan situasi tertentu. Salah satunya yang tidak akan pernah luput didalam pikiran masyarakat adalah pengetahuan mengenai sistem pranatamangsa.

Pengertian Pranatamangsa sendiri merupakan sistem kalender pertanian tradisional yang sejak dahulu telah digunakan oleh nenek moyang untuk menjalankan aktivitas pertaniannya. pranatamangsa dalam masyarakat Jawa sudah digunakan sejak lebih dari 2000 tahun yang lalu. Sistem Pranatamangsa digunakan untuk menentukan kaitan antara tingkat curah hujan dengan kemarau. Pranatmangsa terdiri dari 12 Mangsa dimana mangsa 1 dimulai dari bulan Juli. Dari bulan Juli sampai Desember (Mangsa 1-6) menghadapi musim penghujan, sementara dari bulan Desember sampai Juli menghadapi musim kemarau. Berdasarkan pengetahuan masyarakat lokal Desa Sumbersari, pada bulan Juli ketika masih musim kemarau (baca: sedang panas-panasnya), biasanya ditandai dengan banyaknya anak-anak yang sakit.

Selain berkaitan kalender musim seperti yang telah dijelaskan diatas, Pranatamangsa juga meliputi berbagai pengetahuan lainnya, misalnya pada saat mangsa sekian, aturan yang baik untuk ditanami adalah jenis tamanan tertentu. Melalui sistem tersebut, para petani akan mengetahui kapan saat mulai mengolah tanah, saat menanam, dan saat memanen hasil pertaniannya karena semua aktivitas pertaniannya didasarkan pada siklus peristiwa alam. Sumber pengetahuan seperti ini memang didapatkan dari pengalaman yang telah dilaluinya selama bertahun-tahun, seperti ramalan-ramalan cuaca baik dan buruk setiap tahunnya dan waktu yang tepat untuk memulai bercocok tanam.

Ada pula pengetahuan lokal lain yang berkaitan dengan larangan (pantangan yang masih diperhatikan oleh masyarakat Desa Sumbersari, misalnya tidak boleh menyapu di malam kliwon dan sebagainya.

7. Sistem Kesenian

Secara umum, setiap wilayah pasti memiliki kesenian yang dilestarikan turun-temurun, seperti di Desa Sumbersari, kesenian yang masih eksis hingga saat ini ialah kesenian Jaran Kepang atau Kuda Lumping yang diinisasi oleh Bapak Susanto, selaku Ketua Paguyuban Tridoyo Gadung Melati.

Kesenian Jaran Kepang di Sumbersari awalnya hanya ada di Padukuhan Ngadimerto. Pada saat itu, senior-senior penggerak Jaran Kepang di Sumbersari mengadakan perkumpulan untuk bermusyawarah membahas keberlanjutan kesenian Jaran Kepang. Sebagai upaya melestarian kesenian nenek moyang ini, satu-satunya cara kesenian Jaran Kepang lebih baik digerakkan oleh para pemuda dan ditunjuklah Susanto sebagai Ketua Muda Jaran Kepang Desa Sumbersari. Kemudian dibentuklah nama paguyuban kesenian Jaran Kepang “Tridoyo Gadung Melati” dan diresmikan asal-mulanya dari 3 Pedukuhan yakni Batang, Ngadimerto, dan Krumpyung. Arti kata “Tridoyo” memiliki arti yaitu Kekuatan 3 Pedukuhan, sedangkan “Gadung Melati” diambil dari nama pepunden Ngadimerto. Hal tersebut yang menjadikan sejarah kesenian Jaran Kepang Desa Sumbersari ini dinobatkan sebagai kesenian tertua di Purworejo yang berdiri sejak tahun 1960-an.

Kesenian Jaran Kepang didalam pelaksanaannya sendiri memang diidentikkan dengan “mendem” atau kerasukan.  Dahulu, ada persyaratan untuk mendapat semacam kesaktian, misalnya diharuskan untuk berpuasa dan kuat prihatin. Namun, secara umum, proses seseorang untuk bisa mencapai “trance” (mendem) itu, menurut Pak Santo, dilihat dari beberapa hal diantaranya: (1) “pakaian” seseorang tersebut bersih atau tidak, (2) bersifat apa adanya atau sederhana dan prihatin, dan (3) memiliki jiwa seni yang kuat.

Untuk menjaga eksistensinya di tengah era modernisasi yang semakin berkembang ini agar tidak punah, Paguyuban Tridoyo Gadung Melati memiliki anggota aktif sebanyak 40 orang yang didominasi oleh kalangan remaja. Upaya model tariannya pun dikreasikan sangat sederhana dan klasik. Hal tersebut menjadi alasan pula bahwa masyarakat Purworejo lebih menyukai kesenian asal Desa Sumbersari untuk diundang ke berbagai pagelaran baik untuk acara event kabupaten, acara desa lain, acara agustusan dan lain sebagainya.

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image [ Ganti gambar ]
  Isikan kode di gambar
 


Wilayah Desa

Aparatur Desa

Sinergi Program

Pemkab Purworejo

   

Agenda

Statistik Penduduk

Komentar Terbaru

Info Media Sosial

Lokasi Kantor Desa


Kantor Desa
Alamat : Jl. Raya Banyuurip KM 3, Kec. Banyuurip, Kab. Purworejo
Desa : Sumbersari
Kecamatan : Banyuurip
Kabupaten : Purworejo
Kodepos : 54171
Telepon :
Email : sumbersari.banyuurip@purworejokab.go.id

Statistik Pengunjung

  • Hari ini:42
    Kemarin:18
    Total Pengunjung:13.438
    Sistem Operasi:Unknown Platform
    IP Address:3.229.117.149
    Browser:Tidak ditemukan

Arsip Artikel

10 Agustus 2022 | 214 Kali
Unsur-unsur Kebudayaan Desa Sumbersari
07 Agustus 2022 | 23 Kali
Bantu Tangani Stunting di Sumbersari, Mahasiswi KKN UNDIP Sosialisasi Konstruksi Pola Gizi dan Asuh
26 Agustus 2016 | 466 Kali
Sejarah Desa
26 Agustus 2016 | 89 Kali
Wilayah Desa
24 Agustus 2016 | 406 Kali
Data Desa
24 Agustus 2016 | 55 Kali
Perayaan Hari Kemerdekaan 2016
24 Agustus 2016 | 57 Kali
Membangun Desa Lewat Gotong Royong
26 Agustus 2016 | 466 Kali
Sejarah Desa
24 Agustus 2016 | 406 Kali
Data Desa
29 Juli 2013 | 401 Kali
Profil Desa
23 Agustus 2016 | 381 Kali
Pemerintah Desa
06 November 2014 | 380 Kali
Pemerintahan Desa
29 Juli 2013 | 375 Kali
Kontak Kami
23 Agustus 2016 | 371 Kali
Visi dan Misi
29 Juli 2013 | 401 Kali
Profil Desa
23 Agustus 2016 | 40 Kali
PERDES PHBS
20 April 2014 | 40 Kali
Peraturan Kepala Desa
20 April 2014 | 44 Kali
Keputusan Kepala Desa
29 Juli 2013 | 375 Kali
Kontak Kami
29 Juli 2013 | 39 Kali
Badan Permusyawaratan Desa
24 Agustus 2016 | 406 Kali
Data Desa